Di sekitar kita banyak dijumpai anak-anak yang berbicara dengan gaya orang dewasa. Anak-anak juga berperilaku tak selayaknya anak-anak dan mereka seringkali bergaul dengan orang dewasa yang tidak mengetahui dampak jika seorang anak sering mendengar kata-kata jorok yang sering meraka lontarkan saat bersama dengan anak-anak. Ada beberapa anak yang lebih suka bermain dengan orang yang lebih dewasa dibandingkan dengan seumurannya. Akan tetapi, orang dewasa yang berkumpul dengannya adalah orang-orang yang sering berkata kotor dan perilakunya kurang baik untuk ditiru oleh anak-anak. Yang lebih parahnya mereka mengajari anak-anak hal-hal yang tidak baik sehingga perilaku anak teracuni oleh hal-hal buruk itu.
Masa anak-anak adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan anak-anak, baik fisik, psikologi, maupun biologis. Pada masa ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, seperti bermain petak umpet, bongkar pasang, kelereng, boneka, dan berbagai macam permainan lainnya. Dalam bermain anak-anak berusaha untuk mendapatkan kesenangan, tanpa adanya pertimbangan hasil akhir dari kegiatan yang mereka lakukan tersebut. Mengutip dari blog Mz Inyonk, pengertian anak menurut John Locke adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.
Musik dangdut sudah sering kita dengar di mana-mana. Dari kalangan anak-anak sampai orang dewasa pasti tahu musik dangdut. Dalam Wikipedia bahasa Indonesia, pengertian dangdut adalah salah satu dari tipe musik Indonesia yang mengandung unsur-unsur musik Hindustan atau India klasik.
Dangdut berkembang di Indonesia berakar dari pedagang Gujarat yang menyebarkan agama Islam pada zaman itu. Sehingga dangdut memiliki unsur Melayu dan Arab. Dan dangdut awalnya merupakan media untuk dakwah, seperti di Indonesia H. Rhoma Irama. Terlihat dari lirik-lirik lagunya ciptaannya yang mengandung unsur-unsur ajakan untuk tidak melakukan tindakan yang tidak baik. Beberapa lagunya, yaitu Begadang, Haji, Judi, dan lain sebagainya.
Sebagai lagu popular, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk music lain, mulai dari keroncong, langgan, dengung, gambus, rock, pop, bahkan house music.karena kepopularannya, penyanyi dangdut Inul Daratista mencetuskan goyangan yang dicap sebagai perusak moral, yaitu goyang ngebor. Hal ini menjadi sebab dari gaya panggung penyanyi wanita yang dinilai terlalu terbuka dan tidak pantas untuk dilihat oleh anak-anak. Penyanyi dangdut saat ini yang berpakaian terlalu terbuka dan tidak pantas sangatlah banyak dan hampir semuanya.
Di era modern ini, anak-anak mudah mendapatkan fasilitas hiburan dan penunjang prestasi. Fasilitas hiburan, contohnya televisi, play station, dan lain sebagainya. Di bidang prestasi, juga banyak program perlombaan yang ditujukan untuk memberikan prestasi kepada anak-anak, salah satunya adalah kontes adu bakat di bidang menyanyi, menari dan lainnya. Di dalam kontes adu bakat di bidang menyanyi anak di tuntut untuk menyanyikan beberapa lagu, akan tetapi yang sangat memprihatinkan adalah lagu yang mereka nyanyikan bukanlah lagu anak-anak, tetapi lagu orang dewasa. Sebut saja program televisi yang menunjang bakat anak di bidang menyanyi dan menari adalah “Indonesia Mencari Bakat” dan “Idola Cilik”. Dalam acara “Idola Cilik”, mereka tidak lagi menjadi anak-anak yang seharusnya memerankan gaya dan dandanan yang dibawakan oleh anak-anak. Mereka seolah-olah di sulap menjadi sosok remaja yang begitu berwibawa. Tanpa disadari, program ini memaksa mereka untuk menjadi orang dewasa atau pribadi lain. Salah satu contoh yang sangat menguatkan fakta ini adalah cara berpakaian hingga make-up yang mereka pakai. Misalnya dalam program “Indonesia Mencari Bakat” kontestan yang lebih dewasa pakaian yang dikenakan serta lagu-lagu yang dibawakan, juga banyak menyimpang dari nilai-nilai luhur yang seharusnya dipupuk pada jiwa anak-anak dan remaja. Padahal ada kontestan anak-anak dalam program itu. Efek dari tayangan-tayangan di atas di masyarakat sungguh dahsyat. Fakta ini sangat memprihatinkan karena saat ini begitu minimnya lagu anak-anak yang seharusnya mereka nyanyikan.
Dangdut yang merupakan lagu orang dewasa sangat berbeda dengan lagu anak-anak. Dangdut hanya bisa dikonsumsi oleh tingkat dewasa yaitu dari umur dua puluh ke atas. Sedangkan lagu anak-anak di kosumsi oleh anak dari usia 4-16 tahun. Dari segi tema dan lirik, dangdut dan lagu anak-anak sangat berbeda. Lirik lagu dangdut biasanya lebih dalam. Sedangkan lagu anak-anak adalah lagu yang memiliki lirik yang ringan, seperti pengulangan nada yang sama. Begitupun dari segi tema, dangdut biasanya bertemakan hubungan antara pria dan wanita dalam percintaan. Sedangkan lagu anak-anak lebih bertemakan pada kehidupan anak-anak itu sendiri, seperti sekolah, oarang tua, guru, teman, binatang peliharaan, dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui, bahwa di zaman yang serba canggih ini anak-anak lebih cenderung mendengarkan lagu orang dewasa, seperti dangdut yang seharusnya belum pantas mereka dengarkan. Hal tersebut membuat kita sangat khawatir karena orang tua mereka pun mendukung anak-anak mereka untuk menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Untuk menunjang prestasi anak-anak mereka. Terkadang orang tua memasukkan anak-anak mereka ke acara kontes-kontes adu bakat.
Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu lagu-lagu anak, tetapi mereka mengetahui bahkan hafal lagu-lagu dangdut, seperti Pokoke Joged, Oplosan, Sakitnya Tuh Disini, Pacar Lima Langkah, Hamil Duluan, dan lain sebagainya. Awalnya mereka hanya mendengarkan orang dewasa yang memutar lagu-lagu dangdut tersebut. Lama-kelamaan mereka hafal lagu tersebut. Ibarat kaset kosong anak-anak akan merekam semua yang tejadi di lingkungannya dalam memori mereka. Apa pun yang didengar dan dilihatnya, dalam waktu singkat mereka akan bisa merekam dan menirunya. Apabila setiap hari anak-anak mendengarkan lagu-lagu yang sama, dan kebanyakan dari lagu yang mereka dengarkan tersebut adalah lagu orang dewasa, seperti dangdut koplo. Maka, hal tersebut akan menjadi kebiasaan bagi mereka. Karena setiap hari lagu yang mereka dengarkan adalah lagu-lagu dangdut koplo. Lambat laun tanpa kita sadari hal ini akan memberikan dampak yang sangat buruk terhadap psikologi anak.
Sudah kita ketahui, kebanyakan lagu dangdut saat ini berisi mengenai hubungan pacaran, perselingkuhan, dan masih banyak lagi mengenai masalah percintaan lainnya. Kata-kata yang belum dimengerti oleh anak akan memberikan dampak buruk bagi perkembangan psikologis anak. Contohnya kata cium, peluk, hamil duluan, dan lain sebagainya. Kata-kata tersebut akan memeberikan pemahaman yang salah dan berdampak bagi moralnya. Lagu-lagu yang dinyanyikan dan didengarkan secara permanen akan membentuk pemahaman anak mengenai kehidupan. Anak-anak seharusnya mendengarkan dan belajar mengenai lagu yang sesuai dengan usianya. Karena menyanyi dapat meningkatkan memori anak, juga mengajarkan dirinya keterampilan untuk membaca, dan bisa mengajarinya tentang ilmu pengetahuan serta membentuk psikologis anak secara baik.
Perkembangan kecerdasan seorang anak berjalan secara bertahap, begitu juga dengan pemahamannya terhadap sekitar. Seperti ketika anak TK sedang belajar bersosialisasi, maka ia mulai mencoba mengerti arti pertemanan. Dalam hal ini, tentunya jangan dulu dijejali oleh konsep abstrak, seperti perselingkuhan. Karena proses anak belajar berawal dan juga berasal dari konsep yang nyata terlebih dahulu atau sesuatu yang dekat dengan kesehariannya.
Dengan demikian, kewajiban orang tua yakni memberikan dan memilih lagu anak yang tepat untuk buah hatinya. Hal ini selain media hiburan dan bermain juga dapat dijadikan sebagai media belajar anak. Nilai yang harus terkandung saat mendidik akademis, kejujuran dan juga kepribadian yang positif. Dan tidak ada salahnya jika mengajarkan anak melalui media musik dan lagu. Akan tetapi, masalahnya dengan sulitnya menemukan lagu anak saat ini membuat anak cenderung menyanyikan lagu orang dewasa. Belum lagi apabila anak saat ini mulai dapat mencerna lagu-lagu orang dewasa, terutama dangdut dengan dibantu visualisasi adegan yang ditayangkan televisi, maka kondisi ini semakin membuat anak menjadi dewasa sebelum masanya. Dewasa sebelum masanya disini adalah lebih condong ke hal-hal yang negatif daripada positifnya. Gaya perkataan dan tingkah lakunya akan seperti orang dewasa.
Dengan keadaan zaman modern yang berdampak negatif pada anak, seharusnya para pakar pendidikan dan budayawan harus terus menyuarakan nilai-nilai luhur yang hendak dituju pada pendidikan anak. Kritik yang sifatnya membangun tidak boleh berhenti disampaikan kepada pakar pendidikan dalam menanggapi acara-acara yang ditujukan kepada anak-anak. Para seniman dan ilmuwan harus bekerja keras menghadirkan acara-acara yang berorientasi pada kebaikan dan kecerdasan anak-anak. Contoh acara seperti acara iptek untuk anak, acara belajar menggambar, mengenal permainan tradisional dan budaya anak-anak nusantara serta acara cerdas-cermat atau cepat-tepat dan lainnya yang patut untuk banyak diproduksi. Begitu juga acara yang mengeksplorasi flora dan fauna, masalah lingkungan, ilmu pengetahuan populer, dan lain-lain.
Orang tua adalah orang yang lebih mengetahui sifat dan bakat anaknya. Orang tua harus memberikan bimbingan kepada anak-anak pada saat mereka mulai tertarik dengan tayangan-tayangan yang tidak menguntungkan mereka. Kalau anak-anak mempunyai bakat dan kecerdasan musikal, orang tua harus bisa mengarahkan mereka. Akan tetapi, ketika ada lagu-lagu yang belum layak mereka nyanyikan orang tua harus memberikan pengertian yang benar kepada anak-anaknya. Sementara itu, sedapat mungkin orang tua pun memberikan alternatif tontonan atau hal-hal lain yang bersifat menarik dan mendidik. Jika memungkinkan, jadikan perhatian mereka pada membaca. Kalau anak-anak suka membaca, mereka tak akan menjadi orang-orang yang kecanduan menonton televisi. Kemudian perkenalkan kepada anak-anak biografi orang-orang sukses yang banyak memberi manfaat kepada masyarakat dan dunia. Ini akan mengisi ruang kejiwaan mereka untuk mengukir prestasi pada kehidupan mereka kelak.
Semoga bisa menjadikan inspirasi bagi kita semua

No comments:
Post a Comment